INFO TERUPDATE

POTENSI ORANG TANPA GEJALA MENULARKAN COVID-19

Virus corona SARS-CoV-2 memiliki gejala yang sangat berkaitan erat dengan infeksi saluran pernapasan (ISP). Akan tetapi, tak jarang orang yang terjangkit penyakit Covid-19 tak menimbulkan gejala (asimtomatik).

Orang tanpa gejala ini bisa muncul karena tingkat reseptor ACE2 yang rendah dalam tubuh. ACE2 mengelola respon imun dalam melawan sebuah penyakit. Respons imun tubuh berlebihan bisa menyebabkan 'badai sitokin'.

Sitokin adalah molekul pemberi sinyal kimia yang memandu respons sistem kekebalan tubuh, tetapi kadar sitokin tertentu melambung jauh melebihi apa yang dibutuhkan oleh tubuh, hal ini menyebabkan badai sitokin.

Beberapa penelitian menunjukkan orang terjangkit Covid-19 cenderung memiliki viral load yang tinggi sebelum mereka mulai mengalami  gejala hingga beberapa hari setelah gejala timbul.

Viral load adalah kisaran jumlah partikel virus dalam darah. Dengan kata lain, viral load adalah tolak ukur mengenai sudah seberapa jauh dan cepat penyakit berkembang dalam tubuh yang diketahui lewat jumlah virus di dalam sampel darah.

Beberapa penelitian yang sudah ada sebelumnya menunjukkan kalau para penderita tanpa gejala ini bisa menularkan virus tersebut ketika mereka pertama kali sakit dan sampai 48 jam kemudian.

Namun, para peneliti menganggap studi yang sudah dilakukan hingga saat ini masih belum cukup untuk benar-benar memastikan kalau orang tanpa gejala yang tidak pernah mengalami gejala dapat menularkan Covid-19.
Para peneliti dan dokter sedang bekerja sepanjang waktu untuk memahami hubungan kompleks antara sistem kekebalan manusia dan SARS-CoV-2.

SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19 saat ini telah menginfeksi hampir 2,5 juta orang dan telah membunuh 170 ribu orang di seluruh dunia. 80 persen atau lebih diantaranya adalah 'silent carrier' yang tidak menunjukkan gejala atau hanya mengalami gejala ringan.

Sementara itu, Direktur reumatologi di Children's of Alabama,di Birmingham, Inggris Randy Cron mengatakan gejala inflamasi merupakan tanda dari badai sitokin.

Pada titik ini, prioritas dokter bergeser dari berharap bahwa sistem kekebalan seseorang dapat melawan virus, menjadi mencoba untuk meredam respon kekebalan sehingga tidak membunuh orang tersebut atau menyebabkan kerusakan organ permanen.

"Jika Anda melihat badai sitokin, Anda harus mengobatinya. Akan tetapi mengobati infeksi apa pun dengan menghambat sistem kekebalan selalu berbahaya. Tidak pernah ideal untuk membiarkan virus yang secara langsung dapat membunuh sel kita. Tantangannya adalah mencapai keseimbangan di mana badai sitokin maupun infeksi tidak merajalela," ujar Cron mengutip The Atlantic.

Cron dan peneliti lain percaya keseimbangan semacam itu mungkin terjadi. Badai sitokin tidak unik terjadi hanya di Covid-19. Proses dasar yang sama terjadi dalam menanggapi virus lain, seperti demam berdarah, Ebola, influenza hingga penyakit virus corona lainnya.

Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah memblokir sitokin itu sendiri. Target yang populer adalah satu jenis sitokin yang dikenal sebagai interleukin-6 (IL-6), yang terkenal muncul pada saat terjadi kegagalan pernapasan.

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20200422200235-199-496293/sebab-virus-corona-tak-munculkan-gejala-bagi-silent-carrier

 

ALBUM SEKOLAH

  • ALBUM SARPRAS

    Gedung sekolah dan Sarana dan Prasarana

  • ALBUM KEGIATAN

    Galeri kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan di SMP Negeri 1 Koba

Video Kegiatan

Klik Disini Video lainnya...

 

Program Unggulan

Klik Disini Unggulan lainnya...